Gulita menyelimuti tubuh-tubuh yang kedinginan itu. Mereka ingin pulang, secepatnya. Di dalam ruangan yang sempit, bau, dan pengap; mereka tengah dibisukan dari dunia. Adakah yang berusaha mencari? Adakah yang menyadari jika mereka sedang berusaha dihilangkan? Pertanyaan orang-orang suruhan itu masih sama selama beberapa waktu setelah tubuh-tubuh tidak berdayanya diasingkan ke dalam se…
Badai kembali membungkus kampung kami. Kali ini aku mendongak, menatap jutaan tetes air hujan dengan riang. Inilah kami, Si Anak Badai. Tekad kami sebesar badai. Tidak pernah kenal kata menyerah. Buku ini tentang Si Anak Badai yang tumbuh ditemani suara aliran sungai, riak permukaan muara, dan deru ombak lautan. Si Anak Badai yang penuh tekad dan keberanian mempertahankan apa yang menjadi milik…
Tahun 1994 adalah tahun paling menyakitkan bagiku. Bahkan, bagi warga di kampungku. Kejadian yang tak disangka kehadirannya merenggut banyak senyum dan kebahagiaan. Aku yang keras kepala dan egois seperti Pada peristiwa 2 Juni 1994, aku mendapat balasan atas semua perbuatanku. Malam itu riuh suara air naik dengan cepat ke daratan, teriakan, jeritan, dan reruntuhan barang yang saling berbentu…
Apa kau tahu kalau ada juga hantu yang menyebalkan? Ada, namanya Peter van Gils! Anak hantu keturunan bangsawan Belanda itu paling bisa membuatku gemas. kesal, marah, bahkan terkadang takut. Tidak hanya manusia. empat sahabat gaibku yang lain juga sering kewalahan menghadapi tangan jahat dan sifat 'sok benar-nya. Namun, suatu malam, kudapati dia murung dan sedih. "Dia rindu mamanya, Risa...." B…
Di Negeri di Ujung Tanduk kehidupan semakin rusak, bukan karena orang jahat semakin banyak, tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi. Di Negeri di Ujung Tanduk, para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan, bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian. Tapi di Negeri di Ujung Tanduk se…
Orang biasa, mungkin bisa disebut juga dengan sederet kata: nggak sekolah, miskin, nggak pintar-pintar amat, nggak punya karya bagi bangsa, hidup sekadar hidup, nggak punya mimpi, tinggal di pinggiran kota atau perdesaan. Segala hal tentang orang biasa adalah "biasa" sehingga hidup mereka nggak menarik untuk dibicarakan, apalagi ditampilkan di acara reality show. Andrea Hirata, penulis produkti…